HIV
(Human Immunodeficiency virus), bisa menyebar atau menular kepada orang
lain, melalui hubungan suami istri, pemakian jarum suntik bekas orang yang
terinfeksi HIV, mendapatkan transfusi darah yang tercemar oleh virus HIV AIDS.
Penularan secara tidak langsung dari virus HIV adalah dari seorang ibu ke anakny, melalui air susu ibu, atau seorang ibu hamil yang terinfeksi virus HIV AIDS.
Benerapa gejala atau ciri ciri orang terkena penyakit HIV AIDS
·
Demam berkepanjangan
·
Penurunan berat badan berketerusan
·
Diare kronis yang berketerusan
·
Timbul bintik-bintik merah agak kebiru-biruan di sebagian tubuh
Cara mencegah penyakit HIV AIDS
·
Hidari jarum suntik
bekas
·
Hindari berhubungan intim dengan orang lain kecuali istri sendiri
·
Hindari memakai
narkoba
·
Hindari memakai pakaian orang yang terkena HIV AIDS
·
Hindari transfusi darah tanpa pengecekan dokter
Bagi orang yagng terkena penyakit HIV AID dilarang hamil atau mempumyai keturunan, demi menjaga tejadinya penularan penyakit HIP AIDS terhadap anak tersebut. Dikarnakan penyakit tersebut dapat mengakibatkan atau mempercepat kematian.
Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan tentang cara pencegahan penyakit HIV AIDS , semoga bermanfaat bagi kita semua.
- Strategi ABCD/ABCDE versi pemerintah
A = Abstain
Jangan melakukan seks, terutama hubungan
seksual berisiko.
B = Be faithful
Jadilah pasangan yang setia. “Kalau Anda
punya istri, suami atau pacar, ya sudah satu saja, nggak usah ganti-ganti,”
tegas Dr Nafsiah.
C = Condom
Jika hubungan seks tersebut adalah seks
yang berisiko kehamilan atau penularan penyakit, maka pakailah kondom.
D = Drug
“Jauhi drug (obat-obatan terlarang),
baik drug telan yang dapat menyebabkan gairah seks meningkat seperti ekstasi,
atau drug suntik yang menularkan langsung penyakit dari alat suntiknya itu,”
jelas Dr Nafsiah.
E = Equipment
Jangan bergantian atau berbagi
menggunakan alat seperti jarum suntik atau alat potong kuku, tato atau
alat-alat lainnya yang dapat berhubungan dengan darah.
B. A.Strategi ABCDEF
versi Hariyanto Imadha
HIV/AIDS: Menurut saya,pencegahan
HIV/AIDS dengan cara ABCDEF:
(A)gama harus lebih diefektifkan
Agama adalah pedoman perilaku yang wajib
diaamalkan. Oleh karena itu pendidikan agama harus lebih diefektifkan, baik di
rumah maupun di sekolah. Ceramah-ceramah agama juga harus difokuskan pada
hal-hal yang berhubungan dengan pencegahan menyebarnya penyakit HIV/AIDS.
(B)lokir situs porno
Pemblokiran situ porno perlu secara
kontinyu diteruskan. Tidak hanya pada video porno, tetapi juga pada gambar
porno ataupun cerita porno. Tidak hanya yang ditayangkan lewat internet, tetapi
juga yang bias dilihat melalui ponsel.
(C)abut ijin warnet /hotel/vila/tempat
kos mesum
Harus ada tindakan tegas terhadap
sumber-sumber pornografi. Antara lain dari warnet porno (warnet dengan sistem
bilik cenderung member keleluasaaan mengakses situs porno. Oleh karena itu
warnet dengan sistem bilik harus dilarang). Hotel mesum, vila mesum, tempat kos
mesum dan bahkan salon dan panti pijat yang disalahgunakan untuk perbuatan
mesum juga banyak. Masyarakat tahu itu. Aparat harus terus melakukan razia dan jika
perlu cabut ijinnya.
(D)idikan dari orang tua
Betapapun juga, peranan orang tua masih
diperlukan. Memberikan pengawasan, pendidikan, pencerahan, nasehat dan
bimbingan tentang pergaulan yang baik dan perlunya bersikap hati-hati dalam
pergaulan.
(E)nyahkan lokalisasi PSK
Hampir di setiap kota, masih ada
lokalisasi PSK. Memang sudah ada yang ditertibkan, tetapi muncul lagi di tempat
lain. Mungkin perlu perda yang menjatuhkan sanksi kepada penyelenggara
prostitusi, pelaku prostitusi dan pelanggan prostitusi. Perda yang lemah atau
penegakan hokum yang lemah membuat lokalisasi PSK tetap menjamur. Perlu
tindakan tegas.
(F)ormatisasi mindset
Hubungan seks bebas bias terjadi karena
adanya mindset bahwa seks bebas itu “nikmat”. Meeka tidak punya mindset bahwa
seks bebas itu “dosa”. Oleh karena itu pendidikan di rumah, di sekolah atau
ceramah agama di manapun diadakan, harus bersifat mengubah mindset dari
“nikmat” ke mindset “dosa”. Tentu, perlu keahlian memotivasi, mempersuasi dan
mem-“brainwashing” bahwa seks bebas itu “dosa”. Bahkan “dosa besar”. Seks bebas
tetap bercokol di benak para pelakunya selama mereka masih memiliki mindset
bahwa seks bebas itu “nikmat”.
Kesimpulan
1.Strategi ABCD atau ABCDE mengabaikan
peranan agama. Hanya merupakan anjuran. Sedangkan strategi ABCDEF merupakan
konsep.
2.Perlunya peningkatan efektivitas
pendidikan agama, terutama di sekolah dan kampus.
3.Jadi, mencegah penyakit HIV/AIDS bukan
dengan cara kampanye kondom atau bagi-bagi kondom. Apalagi survei membuktikan
bahwa ukuran virus HIV/AIDS jauh lebih kecil dibandingkan dengan pori-pori
kondom sekalipun kondom itu terbuat daripada latex. Tidak ada kondom yang sama
sekali tidak berpori-pori. Bahkan KB-pun gagal 20% walaupun pihak suami sudah
memakai kondom.
4.Pada dasarnya kampanye kondom
merupakan “pembenaran” terhadap adanya seks bebas.
5.Mencegah penyakit HIV/AIDS yang paling
tepat yaitu mengubah mindset bahwa seks bebas itu “nikmat” menjadi bahwa seks
bebas itu “dosa” atau “dosa besar”.
Semoga bemanfaat.
